Indepth
 

Duuh.. Hanya 5% perusahaan yang siap penuhi kebutuhan TI

Indepth 11 Jul 2017 | 09:38:13
Duuh.. Hanya 5% perusahaan yang siap penuhi kebutuhan TI
JAKARTA (IndoTelko) – Penelitian terbaru dari Dell EMC, yang dilakukan oleh Enterprise Strategy Group (ESG), mengungkapkan bahwa mayoritas pemimpin senior TI dan pengambil keputusan di perusahaan-perusahaan besar yang disurvei di seluruh dunia mengindikasikan bahwa perusahaan mereka belum sepenuhnya menerapkan aspek-aspek Transformasi TI yang dibutuhkan agar tetap kompetitif.

Meski jelas ada kebutuhan mendesak bagi perusahaan-perusahaan untuk mentransformasi infrastruktur TI mereka yang telah ketinggalan jaman, transformasi digital ikut menjadi faktor pendorong penting yang menjadikan Transformasi TI sebagai prioritas utama.

Namun, studi ESG 2017 IT Transformation Maturity Curve yang disponsori Dell EMC menunjukkan bahwa 95% responden mengindikasikan perusahaan mereka berisiko tertinggal dari sekelompok kecil perusahaan serupa di industri yang mentransformasi infrastruktur, proses dan metode penerapan TI mereka untuk mempercepat pencapaian target untuk menjadi perusahaan digital.

Banyak perusahaan masih menerapkan pengukuran siklus aplikasi dalam hitungan bulan, atau tahun; memiliki infrastruktur TI yang tidak terintegrasi; dan masih terus bergulat dengan arsitektur TI yang ketinggalan jaman dan kaku - semuanya adalah penghambat kesuksesan pelaksanaan transformasi digital.

“Hasil penelitian ini sejalan dengan masukan dari sebagian besar pelanggan kami yang menyatakan mereka perlu mengoptimalisasi infrastruktur yang ada untuk bisa meraih berbagai peluang yang tersedia di era digital,” ujar Presiden Dell EMC David Goulden.

Diungkapkannya, studi ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden tertinggal dari sejumlah kecil pesaing elit yang telah berhasil melakukan Transformasi TI, dan keberhasilan tersebut membuat mereka mampu bersaing lebih ketat. Seiring semakin besar investasi perusahaan untuk Transformasi TI, mereka dapat mengatasi konflik antara infrastruktur TI yang ketinggalan jaman dengan inisiatif-inisiatif bisnis digital untuk mewujudkan target mereka, mempercepat waktu penetrasi ke pasar dan meningkatkan daya saing.

"Seiring langkah-langkah yang dilakukan perusahaan-perusahaan di kawasan Asia Pasifik dan Jepang mencari cara untuk mendesain ulang model bisnis mereka untuk sukses di era digital, optimalisasi infrastruktur TI yang gesit dan fokus pada pelanggan sangatlah penting. Temuan-temuan dari studi ini menyoroti pentingnya bagi perusahaan untuk memahami dimana posisi mereka saat ini dalam hal ‘kematangan’ transformasi TI. Pemahaman adalah langkah awal penting untuk mencapai tujuan transformasi digital mereka,” kata Presiden, Dell EMC Asia Selatan & Korea Paul Henaghan.

Studi ESG 2017 IT Transformation Curve dirancang untuk memahami peran Transformasi TI dalam mewujudkan suatu perusahaan menjadi perusahaan digital.

ESG menerapkan model penelitian ‘kematangan’ berbasis data untuk mengidentifikasi tingkat kemajuan Transformasi TI yang berbeda-beda dan menetapkan sejauh mana perusahaan-perusahaan global telah mencapai tingkatan yang berbeda-beda tersebut, berdasarkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tentang infrastruktur dan proses TI di dalam perusahaan dan harmonisasi organisasi.

Jawaban yang diberikan 1.000 perusahaan dari seluruh dunia yang berpartisipasi dalam penelitian ini dibagi ke dalam empat tahap ‘kematangan’ Transformasi TI:

Tahap 1 – Ketinggalan Jaman/Legacy (12%): tertinggal dalam banyak atau nyaris semua dimensi Transformasi TI dalam studi ESG ini

Tahap 2 – Mulai Berkembang/Emerging (42%): menunjukkan kemajuan Transformasi TI tetapi masih minim penerapan teknologi data center modern

Tahap 3 – Berkembang/Evolving (41%): menunjukkan komitmen terhadap Transformasi TI dan telah melakukan penerapan data center modern dan metode penerapan TI secara moderat

Tahap 4 – Telah Bertransformasi/Transformed (5%): terdepan dalam semua inisiatif Transformasi TI

Mayoritas responden (71%) sepakat bahwa Transformasi TI sangat penting demi kelangsungan daya saing bisnis. Dari perusahaan-perusahaan yang masuk dalam kategori “Telah Bertransformasi”, sebanyak 85% meyakini perusahaan mereka berada dalam posisi yang “sangat kuat” atau “kuat” untuk bersaing dan berhasil di pasar mereka dalam beberapa tahun ke depan dibandingkan dengan 43% perusahaan yang sangat belum ‘matang’.

Perusahaan-perusahaan dalam kategori “Telah Bertransformasi” menunjukkan kemajuan luar biasa dalam memanfaatkan sumber daya TI untuk mempercepat inovasi produk dan waktu hingga produk dipasarkan; otomatisasi proses dan tugas manual; dan menjalankan TI sebagai pusat laba daripada pusat biaya. Perusahaan-perusahaan tersebut:

• (96%) meraih pendapatan yang jauh melebihi target tahun lalu; lebih besar 2 kali lipat dari perusahaan-perusahaan yang paling ‘kurang matang’

• 8 kali lebih mungkin memiliki hubungan kerjasama yang sangat baik antara TI dan bisnis, dibandingkan perusahaan-perusahaan yang paling ‘kurang matang’

• Mengalami “kemajuan luar biasa” dalam menjalankan TI sebagai pusat laba daripada sebagai pusat biaya (7 kali lebih mungkin dibandingkan perusahaan-perusahaan yang paling ‘kurang matang’)

• 7 kali lebih mungkin melihat TI sebagai pembeda kompetitif, dibandingkan perusahaan-perusahaan yang paling ‘kurang matang’

• Memanfaatkan sumber daya TI untuk mempercepat inovasi produk dan waktu pemasaran produk (6 kali lebih mungkin dibandingkan perusahaan-perusahaan yang paling kurang matang)

Menurut ESG, adopsi teknologi data center modern, seperti sistem storage scale-out dan infrastruktur converged/hyper-converged, dapat meningkatkan kelincahan dan respons penyediaan infrastruktur, penerapan proyek TI, dan pengembangan aplikasi. Studi ini menemukan:

54% responden menggunakan infrastruktur converged/hyper-converged untuk mendukung aplikasi
58% responden telah mengadopsi sistem storage scale-out dalam beberapa hal
Sekitar 50% responden menyatakan menerapkan software-defined sebagai strategi jangka panjang dan telah mulai melaksanakan, mengevaluasi atau merencanakan teknologi berbasis software

ESG memaparkan bahwa adopsi proses-proses TI modern, seperti kemampuan penyediaan swadaya, menjalankan TI seperti public cloud dan penggunaan metodologi DevOps, bisa menjadi faktor keberhasilan sebuah perusahaan bertransformasi. Studi ini menemukan:

26% responden memiliki kemampuan swadaya yang “ekstensif” atau “mapan”
65% responden telah membuat kemajuan yang “luar biasa” atau “dapat diterima” dalam menyediakan sumber daya TI yang sama seperti yang bisa mereka dapatkan dari sebuah penyedia cloud publik
43% responden mengklaim telah mengadopsi prinsip dan studi kasus terbaik dari prinsip DevOps formal secara “ekstensif” atau “baik”

Transformasi TI kerap dihubungkan dengan hubungan yang lebih kooperatif dan efektif antara TI dan bisnis, yang divalidasi dalam penelitian ini. Studi ini menemukan:
36% perusahaan TI dan hasil mereka dievaluasi setiap bulan oleh C-suite atau dewan direksi, dan 38% dievaluasi setiap kuartal
Eksekutif TI paling senior di 39% perusahaan melapor langsung kepada CEO
61% perusahaan yang paling ‘kurang matang’ menunjukkan jajaran pemangku kepentingan bisnis mereka melihat TI sebagai suatu “penyedia layanan yang stabil, tapi intinya adalah sumber pengeluaran”

Studi yang disponsori Dell EMC ini dilaksanakan oleh Enterprise Strategy Group dari 9 Desember 2016 hingga 5 Januari 2017 menggunakan survei berbasis web terhadap 1.000 eksekutif TI senior, manajer pengambil keputusan, staf yang akrab dengan rencana anggaran dan pengeluaran TI saat ini dan masa depan perusahaan mereka, serta terlibat dalam proses pembelian infrastruktur perusahaan mereka di Amerika Serikat, Brasil, Inggris, Jerman, Perancis, Tiongkok, Jepang, dan Australia. Para responden mewakili beragam industri dan perusahaan skala enterprise.(wn)

Berita Pilihan  
Must Read