Industry
 

Audisi Born to Protect dimulai

Industry 20 Aug 2017 | 11:14:54
Audisi Born to Protect dimulai ilustrasi
JAKARTA (IndoTelko) - Audisi pertama Program Born to Protect untuk menjaring gladiator-gladiator muda di bidang cyber security resmi digelar di Universitas Gunadarma Karawaci, Tangerang, Sabtu (19/8).

Audisi Jakarta itu diikuti oleh 1.100 peserta yang sudah mendaftar melalui website Born To Protect yaitu http://www.borntoprotect.id.

Kegiatan pencarian bakat di bidang IT Security seperti Born To Protect ditujukan untuk menjaring bakat di bidang IT/cyber security guna mendukung transformasi digitalisasi, khususnya pengamanan sistem dan infrastruktur teknologi informasi.

"Diharapkan dari Born to Protect ini didapatkan bakat-bakat terbaik yang dapat dibina agar suatu hari kelak dapat menjadi SDM yang tangguh untuk menghadapi riuhnya serangan siber, sekaligus terjun langsung mendukung industri-industri ekonomi dalam upaya transformasi digital," papar Direktur Keamanan Informasi Ditjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Aidil Chendramata dalam keterangannya, kemarin.

Sesuai Laporan Indonesia Cyber Security Report 2017 yang diterbitkan ID-SIRTII pada tahun 2016 terdapat sebanyak 135,672,948 total serangan. Angka tersebut meningkat lebih dari 50% dibandingkan dengan tahun 2015 dengan jumlah total serangan 89.691.783 serangan.

Port terbanyak yang diserang adalah Port 53 yang digunakan untuk mencari domain name system (DNS). Adapun negara sumber serangan terhadap Indonesia terbanyak berasal dari Amerika dengan  jenis serangan terbanyak DDOS.

Masih menurut data ID-SIRTII serangan paling banyak terjadi pada bulan April 2016 yaitu sebanyak 46.338.965 kali serangan. Sedangkan domain pemerintah (go.id) yang menjadi host phising sebesar 17.73% dan .id 13,64%. "Adapun berbagai bentuk trend serangan dan insiden itu menggunakan instrumen cyberspace sebagai saluran utama dalam melaksanakan tindakannya," papar Direktur Aidil.

Lebih lanjut menrut Direktur Keamanan Informasi, kebutuhan SDM yang memiliki kemampuan dalam mengatasi ancaman serangan siber di Indonesia sangat tinggi. Sementara jumlah SDM yang tersedia masih sangat minim.

"SDM yang dibutuhkan bukan hanya yang memiliki pengetahuan di bidang IT/cyber security saja, tapi juga mereka yang memiliki kualitas, kapasitas, dan kemampuan di bidang IT/cyber security. Untuk itu Born to Protect ini diharapkan mampu menjadi salah satu solusi permasalahan ini," paparnya.

Born to Protect merupakan program untuk menjaring gladiator-gladiator muda di bidang cyber security. Program yang digagas oleh Xynexis dan didukung penuh Kementerian Kominfo ini diharapkan mampu menjaring 10.000 kandidat talent cyber security Indonesia setiap tahunnya. Di akhir setiap program akan terpilih 100 gladiator IT yang akan didik menjadi jagoan cyber security di event Digital Camp selama dua minggu.

Menurut Kasubid Budaya Keamanan Informasi Intan Rahayu dalam kegiatan Born to Protect akan dilakukan pemeringkatan terhadap bakat-bakat cyber security yang terjaring.

"Pemeringkatan talent Cyber Security ini dinilai akan menciptakan kompetisi yang sehat di antara para talent sekaligus mengangkat nilai talent yang berhasil masuk 10.000 talent cyber security paling potensial di Indonesia. Pemeringkatan ini juga diharapkan dapat memunculkan double impact. Mereka menjadi lebih dikenal dunia industri, sebaliknya dunia industri semakin mudah mendapatkan tenaga kerja cyber security yang berkualitas untuk dapat bekerja di instansi mereka," tambah Intan.

Born To Protect terdiri dalam beberapa rangkaian kegiatan antara lain Hacking Contest, Seminar, Train of Trainers, dan diakhiri dengan Digital Camp untuk peserta yang terpilih. Setelah Jakarta, audisi Born to Protect akan dilaksanakan di 9 kota lainnya, yaitu Medan, Palembang, Bandung, Yogyakarta, Malang, Bali, Makassar, Manado dan Samarinda.

Pemilihan 10 kota itu berdasarkan penilaian awal bahwa kota-kota ini memiliki potensi talent cyber security yang cukup besar.

Munculnya angka 10.000 jumlah gladiator IT Security, dari hitung-hitungan banyaknya lulusan teknologi informasi yang belum bisa terjun langsung memenuhi kebutuhan industri dalam keamanan siber. Dari jumlah ini diharapkan bukan hanya didapatkan bakat-bakat yang mumpuni secara kemampuan/skill saja, tapi juga memiliki passion yang besar di bidang IT security/cyber security.(ak) 

Berita Pilihan  
Must Read