Digital Talent

Trik Telkom mengubah pola pikir karyawan menjadi pengusaha

Liputan Khusus 05 Mar 2018 | 09:55:26
Trik Telkom mengubah pola pikir karyawan menjadi pengusaha Tim Emago yang menjadi peserta Digital Amoeba dari Telkom.(dok)
JAKARTA (IndoTelko) – Perkembangan teknologi saat ini menjadi salah satu penentu utama pertumbuhan ekonomi.

Teknologi dapat menjamin produktivitas yang lebih tinggi, peningkatan efisiensi, keamanan, dan kenyamanan.

Selain memberikan keuntungan, perkembangan teknologi juga memberi konsekuensi bagi kehidupan manusia. Sistem otomasi dalam teknologi dapat menimbulkan dampak buruk seperti pengurangan pekerja, terbuangnya keterampilan, dan penghematan upah. Bahkan, World Economic Forum memperkirakan 5 juta pekerjaan akan hilang pada tahun 2020 akibat perkembangan teknologi.

Guna mencegah dampak buruk tersebut, sumberdaya manusia di Indonesia perlu disiapkan memiliki pendidikan dan keterampilan yang sesuai, relevan, dan berguna di era digital saat ini, misalnya dengan memperluas usaha dalam dunia ekonomi digital.

Sebenarnya, perkembangan teknologi justru bisa membantu memperluas lapangan pekerjaan baru. Lihat saja yang terjadi di platform eCommerce yang mendukung pertumbuhan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan memunculkan pengusaha baru di Indonesia.

Telkom sebagai operator telekomunikasi yang tengah bertransformasi menjadi perusahaan digital atau Digital Company (DiCo) juga berusaha memanfaatkan euforia adopsi teknologi untuk meningkatkan produktivitas karyawannya melalui program “Digital Amoeba”.

Program ini diposisikan sebagai inkubator bagi karyawan yang berkeinginan mendirikan usaha rintisan (Startup) agar bisa menjadi seorang intraprenuer dan innovator.

“Inti dari Digital Amoeba adalah ingin mengubah mindset dari karyawan menjadi founder (pengusaha). Ini nilainya (karyawan) banyak sekali kalau sebagai Founder bagi sebuah organisasi seperti Telkom,” ungkap Executive General Manager (EGM) Divisi Digital Service Telkom Arief Musta'in kepada IndoTelko di sela-sela  Digital Amoeba Fest 2018, kemarin.

Trik Telkom mengubah pola pikir karyawan menjadi pengusaha

Arief mencontohkan salah seorang peserta yang rela untuk ikut dalam “Digital Amoeba Fest 2018”, padahal dirinya belum sembuh dari sakit. “Saya tanya, kenapa kamu datang, masih sakit. Dia jawab, ini momen saya untuk  menunjukkan inovasi. Mental seperti itu adanya pada seorang founder, kalau karyawan, kan loyalitas sepanjang tanggung jawab yang diberikan. Mental karyawan mengambil tanggungjawab yang tak berbatas itu bagi Telkom tak ternilai,” katanya.

Menurut Arief, animo karyawan Telkom mengikuti program “Digital Amoeba” karena ada juga kepastian dalam pengembangan karirnya ke depan. “Inovasi ini kan kalo go to market ada exit misal menjadi entitas sendiri atau Probis. Jadi jenjangnya jelas, dan si Founder tetap bisa bersama inovasinya,” katanya.

 CEO Amoeba Fauzan Feisal menambahkan layaknya program akselerasi bagi startup, Telkom pun meyiapkan exit strategy bagi peserta program Amoeba yakni menjadi entitas tersendiri (PT) atau menjadi Probis dari inovasi yang dimilikinya.

"Kita sangat jaga sustainibility dari inovasi yang mereka buat. Saat ini sudah ada inovasi dari program digital Amoeba ditawarkan ke pelanggan walau skala masih kecil," katanya.

Tularkan
Lebih lanjut Arief mengungkapkan, Telkom tengah berusaha menularkan virus “Digital Amoeba” ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN) lainnya agar perusahaan pelat merah makin kompetitif.

“Digital Amoeba kan sudah masuk tahun kedua, ada standar prosedur, kurikulum, dan lainnya. Sebagai innovation labs ini tinggal di-copy dan bisa dijalankan di BUMN lain. Ada beberapa BUMN tertarik mencoba innovation labs ala Digital Amoeba ini,” ungkapnya.

VP HC Strategic Management Telkom Dwi Heriyanto B mengatakan “Digital Amoeba” akan terus dikembangkan karena inovasi sudah menjadi nafas dari Telkom.

“Inovasi merupakan nafasnya perusahaan yang harus  dibangun secara berkelanjutan agar sebuah organisasi sustain dan berkembang,” pungkasnya.(ad) 

SHARE